Disebuah perkampungan di Randomanyang, sebuah masjid dengan arsitektur Tiongkok yang kental berdiri gagah. Bukan di Beijing atau Shanghai, melainkan di bumi Nusantara, Desa Randomanyang Kecamatan Bambalamotu Kabupaten Pasangkayu Provinsi Sualwesi Barat. Masjid Cheng Ho, dengan dominasi warna merah menyala, kuning emas, dan atap berundak khas pagoda, bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah sebuah pernyataan visual yang berani bahwa iman Islam mampu melebur dan berpadu indah dengan budaya apa pun, di mana pun. Keberadaannya seolah menjadi penegas dari sebuah keyakinan mendalam yang tertera di atasnya Yakinlah, Allah tidak pernah salah menakdirkan.
Laksamana Cheng Ho, seorang muslim Tiongkok yang legendaris, menjelajah dunia bukan sekadar untuk berdagang atau unjuk kekuatan armada Ming. Perjalanannya, yang melintasi samudra dan benua, adalah bagian dari skenario Ilahi yang jauh lebih besar dan rumit daripada yang bisa dibayangkan manusia pada masanya. Siapa sangka, jejak langkahnya di Nusantara berabad-abad lalu akan melahirkan sebuah warisan abadi berupa masjid yang memadukan arsitektur Tiongkok, sentuhan lokal, dan semangat Islam? Ini adalah bukti gamblang bahwa takdir Allah bekerja dengan cara yang misterius, melampaui batas-batas geografis, etnis, dan waktu.
Masjid ini adalah simbol nyata dari Islam Rahmatan Lil Alamin. Bentuknya yang unik mengajarkan kita bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk perpecahan, melainkan sebuah kekayaan yang telah ditakdirkan Tuhan. Menerima perbedaan budaya dalam ekspresi keislaman adalah bentuk lain dari menerima takdir Allah yang menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal. Masjid Cheng Ho adalah manifestasi fisik dari dialog peradaban yang harmonis, sebuah takdir yang indah yang memperkaya khazanah Islam di Indonesia.
Kutipan “Yakinlah, Allah tidak pernah salah menakdirkan” terasa begitu relevan dan menghunjam saat memandang masjid ini. Mungkin kita sering mempertanyakan mengapa hidup kita berjalan ke arah tertentu, mengapa kita menghadapi ujian yang berat, atau mengapa kita berada di situasi yang tidak kita harapkan. Seperti Cheng Ho yang ditakdirkan menjadi penjelajah agung dan penyebar damai, atau seperti masjid ini yang ditakdirkan menjadi simbol harmoni lintas budaya, setiap dari kita memiliki peran unik dalam rencana besar Tuhan.
Alih-alih terus bertanya mengapa dengan nada protes, tugas kita sebagai hamba adalah menjalani peran tersebut dengan keyakinan penuh. Berdiri di hadapan Masjid Cheng Ho, saya diingatkan bahwa skenario kehidupan, serumit dan seaneh apa pun kelihatannya di mata, selalu memiliki tujuan yang mulia. Mungkin kita belum memahaminya sekarang, namun seperti keindahan arsitektur yang lahir dari perpaduan budaya yang berbeda, keindahan hikmah di balik takdir hidup kita pun akan terungkap pada waktunya. Kuncinya hanya satu yakni yakinlah pada Sang Penulis Skenario Terbaik, karena Dia tidak pernah salah.







