Pagi datang pelan-pelan. Langit masih gelap, udara masih dingin, dan rumah-rumah belum sepenuhnya terjaga. Di waktu seperti ini, kebanyakan orang masih ingin menambah tidur. Selimut terasa hangat, dan dunia seolah bisa menunggu sebentar lagi.
Namun ada juga orang-orang yang memilih bangun lebih awal. Bukan karena tuntutan kerja, bukan karena urusan dunia. Mereka bangun untuk mengambil air wudu, menggelar sajadah, lalu menunaikan dua rakaat sunnah Fajar. Shalat yang singkat, tapi dilakukan dengan hati yang tenang.
Di luar sana, dunia selalu memanggil. Rezeki, jabatan, harta, dan kenyamanan terus dikejar. Kita rela bangun pagi demi pekerjaan, rela lelah demi penghasilan. Tapi sering kali, untuk urusan akhirat, kita justru menunda dan merasa itu tidak mendesak.
Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan dengan kalimat yang sangat sederhana, tapi dalam maknanya:
“Dua rakaat sunnah Fajar lebih baik daripada dunia dan seisinya.”
(HR. Muslim ).
Artinya, apa pun yang ada di dunia ini semisal harta, rumah, kendaraan, jabatan—nilainya tidak sebanding dengan dua rakaat shalat yang dilakukan sebelum Subuh.
Dua rakaat ini mengajarkan kita untuk berhenti sejenak. Sebelum sibuk dengan urusan dunia, kita diajak mengingat Allah lebih dulu. Sebelum mengejar apa yang terlihat, kita diminta menata hati untuk sesuatu yang kekal.
Besok pagi, dunia akan kembali memanggil dengan segala kesibukannya. Tapi pertanyaannya sederhana saat Subuh tiba, apakah kita masih memilih menambah tidur… ataukah kita mau bangun, mengambil wudu, dan menunaikan dua rakaat yang nilainya lebih besar dari dunia dan seluruh isinya?







