Akhir tahun 2025 saya habiskan di Mambi, Mamasa. Di Desa Bujung Manurung, rumah orang tua istri berdiri seperti jangkar, menahan saya agar tak terus hanyut dalam kesibukan yang sering kali terasa penting, tapi sesungguhnya fana.
Tak ada agenda besar saat pulang. Tak ada daftar target. Kebahagiaan justru datang dari hal yang paling sederhana, mencium tangan orang tua, memeluk mereka, lalu duduk berjam-jam mendengarkan cerita yang mungkin sudah pernah saya dengar, tapi selalu terasa baru.
Orang tua, jika diberi waktu, akan bercerita panjang. Tentang masa muda mereka di Mambi yang belum beraspal. Tentang berjalan kaki berjam-jam melewati tanjakan dan kabut. Tentang sekolah yang jauh, sawah yang luas tapi hasilnya pas-pasan, dan masa ketika hidup tak mengenal kata libur. Cerita-cerita itu mengalir pelan, diselingi tawa kecil dan jeda Panjang seolah mereka sedang memilih kenangan mana yang layak dibagikan.
Saya mendengarkan. Kali ini benar-benar mendengarkan.
Di usia seperti sekarang, saya sadar bahwa kisah masa muda orang tua bukan sekadar nostalgia. Di dalamnya tersimpan keteguhan, kesabaran, dan keputusan-keputusan sunyi yang kelak membentuk hidup anak-anaknya. Mereka tak pernah menyebutnya pengorbanan. Mereka hanya menyebutnya kehidupan.
Setiap pagi saya tetap berlari kecil dari Bujung Manurung menuju Mambi. Jalan aspal baru membentang mulus dari persimpanan jembatan Mambi menuju Talipukki, tapi pikiran saya sering tertinggal di rumah pada cerita-cerita semalam yang belum selesai. Tentang bagaimana ayah mertua belajar bertahan, tentang bagaimana ibu belajar ikhlas. Tentang mimpi-mimpi yang tak sempat mereka kejar, agar anak-anaknya bisa berlari lebih jauh.
Hari-hari bersama orang tua berjalan pelan. Terlalu pelan, sampai saya berharap waktu sedikit lebih lambat. Sebab saya tahu, tak semua pertemuan bisa diulang. Tak semua cerita akan selalu punya pendengar.
Di Mambi, saya belajar satu hal yang paling penting: pertemuan dengan orang tua adalah hikmah terbaik yang sering kita anggap biasa. Padahal, di sanalah doa-doa lama masih hidup. Di sanalah kita kembali menjadi anak tanpa jabatan, tanpa peran, tanpa tuntutan.
Dan pada akhirnya, saya pun bertanya pada diri sendiri dan mungkin juga pada Anda,
Kapan terakhir kali kamu benar-benar pulang, duduk tenang, dan mencium tangan orang tuamu?








